Nasabah Kecil Tetap Nelangsa

Memiliki tabungan di bank, tapi jumlahnya terus berkurang. Jangan kaget karena berbagai kemudahan layanan di perbankan menjadikan biaya administrasi semakin mahal, bahkan dengan bunga tabungan yang relatif kecil.

Dana nasabah yang jumlahnya kecil pasti akan terus berkurang. Jadi jika ingin untung, menabunglah dengan jumlah besar. Contohnya nilai tabungan dengan nominal Rp 5 juta. Bunga selama setahun mencapai Rp 100 ribu, tapi dipotong pajak 20 persen sebesar Rp 20 ribu. Itu belum dipotong biaya administrasi selama setahun yang sebesar Rp 120 ribu. Dengan demikian, dana nasabah tersebut berkurang Rp 20 ribu.

Boleh dikatakan, sebagian nasabah seakan tak mempunyai pilihan. Sebab, menabung di rumah relatif tidak aman. "Kalau ditabung [di bank] kan tak mungkin diutak-atik," ucap Mariana, salah satu nasabah sebuah bank di Jakarta, baru-baru ini. Hanya saja, ia mengakui sekarang potongan tabungan lebih besar.

Arif Wicaksono dari Bank Rakyat Indonesia mengatakan, potongan seperti itu untuk operasional bank. "Itu yang diperhitungkan dalam biaya administrasi untuk pengelolaan rekening tersebut," kata Arif. Dasar perhitungannya, menurut dia, salah satunya adalah biaya pemanfaatan teknologi informasi.

Pengamat: Biaya Administrasi Bank Bisa Dihilangkan

Anda pasti pernah mengalami, tabungan tergerus karena biaya operasional bank lebih besar dibanding bunga yang diperoleh. Ini terutama terjadi jika tabungan Anda di bawah Rp 5 juta. Menurut Suwignyo Budiman, Direktur Bank Central Asia, di Jakarta, Senin (27/4), biaya administrasi yang besar akibat transaksi anjungan tunai mandiri (ATM) serta debit tinggi. Sehingga biaya operasional menjadi besar.

Tak bisa dipungkiri, telah terjadi pergeseran gaya hidup yang membuat fungsi tabungan bergeser dari semula untuk menyimpan uang menjadi alat transaksi Namun, kata ekonom Umar Juoro, jika dihitung dengan benar dan jujur, bank dengan nasabah besar sebenarnya bisa menurunkan atau bahkan membebaskan biaya administrasi. Sehingga fungsi bank sebagai tabungan tetap berjalan [baca: Nasabah Kecil Tetap Nelangsa].

Seni Tubuh Mencari Jati Diri

Berbagai macam cara dilakukan orang untuk mengekspresikan diri. Body piercing atau tindik tubuh adalah salah satu ajang untuk eksperimen dan eksplorasi seni pada tubuh. Piercing tak sekadar jadi ekspresi seni, tapi telah menjadi bagian dari gaya hidup. Berbagai bagian tubuh ditindik demi mendapatkan keindahan dan sensasi. Mulai dari bagian wajah hingga sudut-sudut tubuh. Bahkan, yang vital pun ditindik untuk mendapatkan kepuasan ekspresi.

Seni mengekpresikan diri lainnya adalah menato tubuh. Seni yang tergolong paling tua di muka bumi ini masih amat digemari sebagian kalangan. Tua muda, pria wanita, menyukai tato. Bahkan, tato amat bermakna bagi sang empunya. Kini, tato bukan lagi simbol gambar untuk menakuti-nakuti orang, namun menjadi sarana ekspresi yang seksi dan trendi. Bukan cuma bagian lengan, kaki, dan punggung. Tapi, juga merambah payudara dan bagian-bagian amat vital serta sangat pribadi lainnya dari kaum hawa.

Mengekspresikan diri juga bisa dituangkan di tembok-tembok kota berukuran besar. Ciri khas seni pinggiran ini menjadikan ruang publik sebagai pengganti kanvas. Ini membuat seni mural tampak berbeda dan khas. Kondisi sosial masyarakat kerap menjadi tema utama goresan, sapuan, dan semprotan cat dari seniman seni mural.

Berbeda dengan seni mural, seni mengecat tubuh atau body painting menggunakan tubuh manusia sebagai media lukis. Biasanya, diperagakan kaum perempuan. Lekuk-lekuk sang model penuh warna-warni membuat benar-benar menjadi lebih hidup.

Warung Surabaya, Lokasi Temu Kangen Perantau Indonesia

Philadelphia bisa jadi merupakan kota dengan jumlah warga Indonesia terbanyak di Amerika Serikat. Sebab. di kota ini terdapat ribuan warga Indonesia yang mengadu nasib. Tak heran bila dengan mudah Anda bisa bertemu dengan warga Indonesia dan menikmati beragam makanan khas Tanah Air.

Keluarga Hadi salah satunya. Hampir satu dekade keluarga ini membuka Warung Surabaya di kawasan South Philly, Philadelphia.
Warung ini menyajikan beragam menu khas Nusantara. Antara lain gudeg, gado-gado, sayur lodeh, rendang, soto betawi, hingga sate kambing. Harganya US$ 5 per porsi.

Kini, pengunjungnya juga meluas. Tidak hanya warga Indonesia tetapi juga warga AS. Seperti Bruce, yang mengaku menyukai nasi goreng dan sate. Biasanya di akhir pekan warung ini juga menjadi lokasi temu kangen para perantau di Philadelphia dan sekitarnya. Kuliner khas Indonesia seakan menghapus rindu dan membawa mereka ke kampung halaman.

Harvard Law school, sekolah idaman praktisi hukum

Liputan6.com, Massachusetts: Profesi di bidang hukum memang masih berprospek cerah. Itu sebabnya menuntut ilmu di Harvard Law School, Massachusetts, Amerika Serikat, menjadi idaman semua mahasiswa maupun praktisi hukum. Setiap tahun, tercatat sekitar 1.900 mahasiswa strata satu, pascasarjana, dan program doktoral. Tak heran bila persaingan untuk bisa diterima di kampus ini sangat ketat.

Sistem pendidikan di Amerika Serikat mengedepankan belajar secara kreatif dan mandiri bagi para mahasiswa. Seperti yang terlihat di suatu petang, ketika para mahasiswa pascasarjana sedang mengikuti kuliah seminar Sejarah Hukum Amerika yang diberikan Profesor Dan Colleitte. Kegiatan belajar mengajar terlihat sangat rileks, seakan tidak ada jarak antara sang profesor dan mahasiswa dalam mendiskusikan beberapa kasus hukum.

Menurut Profesor Dan, Harvard Law School memang didesain untuk melatih seseorang menjadi pengacara profesional. Kondisi ini memicu para mahasiswa untuk terus berprestasi di tengah persaingan ketat mahasiswa yang berasal dari seluruh penjuru dunia. Dengan nilai akademik yang baik, beasiswa juga bisa didapat dari kampus tempat Presiden AS Barack Obama berkuliah ini.

Kampus yang berdiri sejak 1636 ini memang sangat termasyhur. Tak hanya calon atau keluarga mahasiswa yang berasal dari seluruh negara bagian di AS dan 70 negara di dunia, para wisatawan juga terus berdatangan ke sini.(TES/Esther Mulyanie)

musim caleg berguguran (liputan 6 dot com)

Musim Caleg Berguguran

Liputan6.com, Jakarta: Kalah dan menang dalam politik adalah hal biasa. Namun, ternyata tidak semua calon legislatif yang bertarung di Pemilihan Umum Legislatif 9 April 2009 tidak siap kalah. Diprediksi, ada sekitar 7.000 caleg yang berpotensi mengalami gangguan jiwa.

Menurut dokter Pandu Setiawan, fenomena caleg stres merupakan sesuatu yang wajar. Namun, Ketua Jejaring Komunikasi Kesehatan Jiwa Indonesia itu masih mempertanyakan angka 7.000. Pasalnya, setiap orang sebenarnya berpotensi untuk menderita salah satu gangguan saraf jiwa. Jadi, tak hanya caleg yang kalah berpotensi mengalami gangguan jiwa. "Saya yakin, yang terpilih menjadi salah satu dari 18 ribu (anggota DPR) juga berpotensi sama," kata dokter Pandu.

J Kristiadi, pengamat politik CSIS, menilai banyaknya caleg stres adalah tanggung jawab partai politik. Menurut Kristiadi, seharusnya partai tak hanya mempersiapkan caleg-caleg yang memiliki keterampilan dan pendidikan, tapi juga kesehatan jiwa. "Sebab, tekanan dalam lembaga perwakilan luar biasa," ucap Kristiadi.

Tekanan ini dibenarkan Happy Bone Zulkarnain. Bahkan, caleg dari Partai Golkar ini sempat melakukan survei kecil-kecilan terhadap anggota DPR. Hasilnya, dalam satu bulan minimal ada seorang anggota DPR meninggal. "Kebanyakan meninggal akibat stres dan jantung," kata Happy Bone.

Dari 1,5 juta caleg yang bertarung, cuma 1,5 persen yang kebagian kursi. Kabarnya, caleg yang kalah kebanyakan dari politisi senior. Menurut J Kristiadi, hasil ini tentu akan amat berdampak. Karena itu, dia meminta para anggota dewan yang baru harus belajar keras. Mulai darimana mengerti politik perundang-undangan, membuat draf undang-undang, mengubah cita-cita jadi suatu kebijakan yang tentu tidak mudah. Untuk selengkapnya, saksikan dialog menarik para caleg dan pengamat politik dalam tayangan video Barometer edisi 22 April 2009.(BOG)